Banjir Promo Aplikasi Pembayaran, Gimana agar Tidak Boros? - Bisnis Liputan6.com
Sukses

Banjir Promo Aplikasi Pembayaran, Gimana agar Tidak Boros?

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Indonesia saat ini tengah memasuki era booming financial technology atau biasa disebut fintech. Berbagai macam inovasi fintech telah banyak mengubah kebiasaan masyarakat.

Sebut saja kehadiran platform pembayaran, seperti Go-Pay, OVO, Dana, dan sebagainya, yang membanjiri masyarakat dengan berbagai macam penawaran diskon belanja.

Yang terakhir adalah peluncuran LinkAja yang dibesut oleh Himpunan Bank-Bank BUMN (Himbara). LinkAja resmi diluncurkan mulai 22 Februari 2019 sebagai pesaing Go-Pay dan OVO di pasar e-wallet.

Masyarakat konsumen mungkin senang-senang saja dengan kemunculan berbagai macam platform pembayaran tersebut. Terlebih, kemunculan platform-platform teknologi finansial tersebut biasanya dibarengi dengan penawaran promo yang luar biasa banyak. Kebanyakan adalah promo transaksi belanja konsumtif, seperti transaksi jajan kopi atau camilan-camilan ringan, hingga promo belanja fesyen, dan sebagainya.

Kemunculan berbagai macam platform tersebut mungkin memang semakin memudahkan transaksi harian Anda. Namun, bila jarang disadari, kehadiran berbagai macam banjir promo tersebut membuat Anda jadi lebih sering bertransaksi alias lebih boros.

Inilah tips mudah supaya banjir promo aplikasi pembayaran tidak membuat Anda boros. Simak jurus mudah, seperti dikutip dari HaloMoney.co.id berikut ini:

1. Miliki batasan

Bila Anda terbiasa mengatur keuangan dengan baik, Anda pasti sudah paham bila setiap jenis pengeluaran perlu direncanakan dengan baik. Tak terkecuali, pengeluaran untuk jajan-jajan atau transaksi yang sifatnya tersier alias konsumtif belaka. Jajan kopi, jajan camilan, dan belanja produk fesyen, termasuk dalam kategori tersebut.

Nah, supaya pengeluaran Anda tidak jadi boros akibat godaan-godaan promo tersebut, Anda perlu memiliki batasan.

Berapa, sih, pos pendapatan yang Anda alokasikan untuk pengeluaran yang sifatnya ringan atau tersier? Misalnya, Anda memiliki alokasi jajan ringan sebesar Rp 300 ribu per bulan di luar biaya makan. Cobalah berkomitmen untuk mengeluarkan uang melebihi alokasi yang sudah Anda patok sendiri.

2 dari 3 halaman

2. Pilih maksimal dua aplikasi saja

Setiap aplikasi pembayaran, terutama yang baru meluncur ke tengah publik, lazimnya menawarkan berbagai macam promo yang intinya adalah untuk menarik orang agar memakai aplikasi tersebut. Nah, karena Anda sudah memiliki batasan bujet, sebenarnya Anda bisa membagi uang tersebut dalam aplikasi pembayaran yang terbatas saja.

Misalnya, aktivitas Anda selama ini sudah banyak memakai aplikasi X untuk berkendara kemana-mana. Akan lebih optimal bila Anda juga menempatkan dana jajan Anda di aplikasi yang sama. Atau, bisa juga dibagi menjadi maksimal dua aplikasi saja. Mana aplikasi yang paling banyak memberikan promo, itulah yang Anda pilih.

Ingat, tidak semua aplikasi pembayaran perlu Anda unduh dan gunakan hanya karena memberikan promo. Pasalnya, pengendapan dana yang terlalu banyak di berbagai aplikasi hanya akan membuat Anda semakin boros dan kurang efisien. Jadi, pilihlah dua aplikasi saja yang paling oke promonya untuk mendukung aktivitas transaksi sehari-hari.

3 dari 3 halaman

3. Cermati promo

“Tidak semua yang diskon, perlu Anda beli”. Selalu ingat kalimat tersebut untuk membantu Anda mengatasi godaan belanja konsumtif. Aplikasi pembayaran akan terus muncul dan menawarkan berbagai macam promo yang mungkin sangat menggiurkan. Namun, apakah semua perlu Anda ambil?

Akan lebih baik apabila Anda selalu selektif mencermati penawaran promonya seperti apa. Misalnya, apa saja syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi bila ingin mendapatkan benefit promonya. Umumnya, ada syarat transaksi minimal atau pembatasan transaksi dalam periode tertentu. Dengan begitu, Anda bisa memastikan uang Anda memang efektif dan efisien mendapatkan keuntungan promo tersebut.

Itulah 3 trik mudah menghadapi banjir promo dari aplikasi pembayaran fintech. Gampang, bukan?

Loading
Artikel Selanjutnya
7 Usaha Kecil dengan Potensi Laba Besar, Apa Saja?
Artikel Selanjutnya
LPS Kaji Perluasan Penjamin Dana untuk Fintech