Search
  • News and Updates

COVID-19: Halangan atau Tantangan?

Oleh: Jose Da Costa (Geologist, Technical & Planning Dept. – PT. Borneo Indobara)


Pada abad ke-19 tepatnya tahun 1815, dunia mencatat peristiwa environmental change yang cukup berdampak bagi kehidupan manusia saat itu. Kabut kering menutupi seluruh permukaan bumi, penurunan suhu bumi, tsunami, cuaca ekstrem, gagal panen, wabah kolera dan tifus, krisis pangan memicu demonstrasi, kerusuhan, pembakaran hingga penjarahan.


Peristiwa kelam tersebut berawal dari erupsi gunung Tambora pada tahun 1815. Gunung api Indonesia yang terletak di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat ini, mencatat letusan terdahsyat dengan skala kekuatan erupsi pada Volcanic Erupsi Index VEI 7 atau kedua tertinggi dari puncak VEI 8, memuntahkan 50 sampai 150 kilometer kubik magma dari perut bumi. Tiga kerajaan di lereng Tambora ikut musnah yakni Tambora, Sanggar dan Pekat serta korban tidak langsung dari belahan bumi lainnya yang mencatat total angka kematian hingga 100.000 jiwa.


Letusan terhebat sepanjang sejarah modern ini cukup berkontribusi pada perubahan tatanan global. Perang di beberapa negara bagian Eropa berhenti setelah raja Perancis Napoleon Bonaparte harus menelan kekalahan akibat cuaca ekstrim sehingga kehilangan bala tentara dan kuda-kudanya. Beberapa peristiwa sejarah dunia juga turut lahir dari erupsi gunung Tambora ini, termasuk penemuan sepeda (Velocipede) alat transportasi pengganti kuda di abad itu.


Dalam perspektif geologi, environmental change merupakan salah satu bagian dari geodinamika bumi dalam berevolusi baik itu secara lokal, regional ataupun global. Aktifitas tektonik, perubahan klimatologi, esplosi kehidupan, wabah global, adalah geodinamika bumi yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Evidence geologi pada ratusan juta tahun lalu juga meninggalkan jejak evolusi bumi dari awal pembentukan kerak bumi, binatang raksasa, glasial, manusia purba hingga manusia modern saat ini.



Wabah Covid-19 yang sedang kita hadapi boleh jadi “a part of environmental change” akibat esplosi kehidupan yang tidak terkendali. Perspektif geologi di atas ingin menggambarkan bahwa bumi dan isinya adalah satu dinamika yang terus berkembang, tentu manusia tidak akan bisa mengendalikan bahkan menghindarinya, melainkan menyesuaikan diri dengan linkungannya. Komodo bisa jadi ‘lesson learned’ yang bagus bagi kita manusia untuk terus bertahan menghadapi environmental change di sekitar. Sementara letusan Tambora secara tidak langsung menjadi pemantik bagi lingkungan untuk melakukan sinkronisasi, inovasi, pelestarian, pengkajian dan sebagainya.


Kesimpulan singkat dari tulisan ini mengajak kita mencoba melihat dari perspektif geodinamika bumi agar kita bisa terus survive layaknya komodo dan juga mengambil ini sebagai tantangan dalam berinovasi agar tetap sinkron dengan environmental change baik itu secara lokal, regional maupun global.

0 views

(021) 5018 6888

  • LinkedIn
  • Instagram
  • YouTube
  • Facebook
  • Twitter
  • Spotify
  • TikTok
  • Icn HR Portal

©2020 by Sinar Mas Mining.